Sunday, April 8, 2007

[Journey] Negeri Indah itu Bernama Minahasa

[gara-gara Jelajah TransTv ngebahas tentang Manado, jadi inget trip kesana tahun 2005 lalu, berdua Sisca, berbekal peta dan bocoran info tempat wisata dari website, juga nomer telpon Mba Sisil n Paul]

 

14 August 2005 - Tinutuan & Boulevard

 

‘Selamat datang.. selamat datang’.. begitu deh kira-kira sambutan dari deretan nyiur melambai yang menyapa sejuk mata kami bahkan saat pesawat belum mendarat di negerinya paman Sam [Sam Ratulangi maksudna].. hmm rayuan pulau kelapa banget.. its really relieving after 3 hours flight..

 

Sesampai disana sudah menjelang siang, langsung menuju rumah keluarga Sembiring di Komo, menemui mba Sisil yang langsung mengajak kami mencicipi Bubur Manado tidak jauh dari rumahnya yang disajikan bersama bakwan Nike  [sejenis ikan seperti teri, katanya sih cuma ada di Manado].. wah uenak bangett, secara masih jet lag gitu n disuguhin bubur hangat dan nike yg gurih.. welcome drinknya nutrisari segar.. hmm mak nyuss..

 

Setelah istirahat siang hingga sore [hehe kebo banget ya, secara kamar yg disediain mba Sisil buat kita standard hotel banget getu] .. sore hari kita berdua iseng jalan-jalan naik angkot ke pusat kota, wah angkot disana heboh banget, kek diskotik jalan, secara speakernya 6-8 bo, sakhing kerasnya keknya supirnya jadi rada budeg gitu, kalo penumpang mo turun kudu pencet bel.. kocak ga seeehh.. malamnya bang Simon [yg waktu itu menjabat KaKanDaTel Telkom Manado] n keluarga ajak kita ke kawasan Boulevard tempat favoritnya anak nongkrong Manado, makan di mega mall n cuci mata liat toko-toko pakaian yg modis banget dagangannya..

 

15 August 2005 - Snorkel @ Bunaken

 

Pagi-pagi kita bedua udah nangkring di dermaga belakang hotel Celebes, menanti Pak Jalil pemilik kapal yang direferensikan oleh Tieke teman kami.. setelah negosiasi beberapa saat, dapatlah kami sewa kapal yang cukup murah (murah coz itu kapal gede banget muat deh 30 orang, n cuma 300ribu aja sewa dari pagi sampai sore).. menunggu sejenak, datanglah Paul - brondong maniz ponakan sahabatku Andrey yg memang dipesan Andrey untuk nemenin kita jalan-jalan disana.. yiuukk..

 

Berlayar dua puluh menit saja, tapi mata kami sudah tersegarkan dengan pemandangan indah gunung di pulau Manado Tua yang menghijau tampak kontras dengan birunya laut.. dan tibalah kami di Taman Laut Bunaken.. berdecak disana nganga disini.. alamak dari atas perahu aja kita bisa lihat ikan warna warni di bawah sana.. tanpa menunggu hitungan ke-5 gw n Sisca langsung memasang alat snorkel, live jacket dan menceburkan diri berbaur dengan ikan-ikan cantik itu.. kami masih dapat melihat jelas di kedalaman 10 meter terumbu karang yang bentuk dan warnanya beraneka ragam, ikan-ikan berwarna biru-orange-perak dan beragam mahluk laut lainnya.. andai gue bisa diving, hiks hiks.. kami terus berenang menuju arah daratan, hingga kedalaman 3 meter ikan dan terumbu karang cantik masih dapat ditemui, tapi semakin dekat daratan karangnya tajam-tajam membuat baju kami tersangkut.. secara jarum jam sudah menunjuk angka 1 siang, perut sudah lapar, kami pun bergegas kembali ke kapal, menuju dermaga Pulau Bunaken dan memesan makan siang ikan bara laut yg dibakar disalah satu resto disana, lezat banget apalagi dimakannya pakai sambal dabu-dabu, trus sambil nikmatin angin cepoi yg bertiup lembut..

 

[sayang deh tempat seindah Bunaken ini tidak didukung fasilitas wisata umum yg memadai, pulaunya kesannya kotor, wc di resto aja berantakan, mungkin cuma di resort yg mahal aja yg rada bersih yak L, mudah-mudahan sekarang udah better deh]

 

Usai melihat-lihat souvenir dan ngeborong kalung dolphin yg dijajakan, cita-cita mau lanjut snorkel lagi di sekitar pulau Siladen, sayang pas kapal menuju kesana arus ombak terasa makin kuat, Pak Jalil pun menyarankan agar kita kembali saja.. hiks padahal dah kebayang-bayang deh indahnya laut Siladen.. tapi no problemo.. tetep aja kita ceria gumbira bercanda sama Paul n awaknya Pak Jalil yaitu Simbar dan Jemmy.. toh esok hari masih ada acara jalan-jalan lagi..

 

16 August 2005 – Tomohon, Danau Tondano, Bukit Kasih, Danau Linow

 

Dengan menyewa angkot milik Ato rekan Paul [lengkap dgn speaker bombastisnya] dan ditemani oleh Paul, Ato, Audi dan Nathan [teman Paul dari Amurang], seharian kami berkeliling ke daerah Tomohon dan sekitarnya..

 

Pemandangan pertama yg kami temui adalah vihara Ekayana, tempat ibadah umat Budha berbentuk pagoda yg berdiri megah setinggi 20 meter, berwarna kontras diantara kehijauan alam sekitar, berhadapan dengan gunung Lokon yg menjulang angkuh dibalut awan putih dipayungi langit biru.. glekk..

 

Lanjut ke Danau Tondano, dibuai pemandangan sepanjang jalan yg asri sekali, sawah menghijau disana-sini, lagi lagi deretan pohon kelapa turut menghiasi.. wah ternyata Danau Tondano luas banget yaa, sampe cape berdecak kagumnya n berhenti futu-futunya.. lanjut ke Bukit Kasih di desa Kawangkoang..

 

Cukup jauh juga lhow Bukit Kasih itu, melewati beberapa desa, diantaranya desa Polutan yg terkenal dengan hasil kerajinan keramiknya, juga goa peninggalan Jepang yg konon dulu digunakan untuk menyimpan makanan dan obat-obatan milik pasukan Jepang.. melewati juga tempat pemandian air panas Kinali.. tapi kita ga tergoda mampir.. tiba di Bukit Kasih, kami beristirahat sejenak menikmati jagung yg direbus di air belerang, manis dan anehnya ga berbau belerang lhow.. plus pisang goreng.. n sambal roa.. yummy.. tenaga mulai kumpul, dan kami pun mulai menaiki anak tangga menuju puncak Bukit Kasih dimana terdapat 5 rumah ibadah dari 5 agama.. istirahat sebentar futu-futu sambil meluruskan betis yg terasa ketarik-tarik n melonggarkan nafas yg mulai tersengal.. hua gimana pegelnya kalo manjat tembok Cina ya.. tapi semua lelah itu terbayar dengan pemandangan indah di puncak Bukit Kasih, Tomohon nan permai, nyiur melambai, sawah keemasan, dan danau tondano yg tampak seperti permadani hijau keperakan.. belum lagi dibelai-belai sama sejuknya angin dingin yg bertiup lembut [padahal siang itu matahari lagi lucu-lucunya].. puas istirahat diatas, futu-futu di gua Maria dan salib gede yg kemarin kelihatan jelas banget dari pesawat, kami menuruni anak tangga untuk melanjutkan perjalanan ke Danau Linow..

 

Terletak tidak jauh dari Bukit Kasih, tepatnya di desa pertama belok kanan setelah gereja yg paling besar, terus aja ikutin jalan.. Danau Linow ini ga terlalu besar tapi karena airnya air belerang jadi bikin unik coz permukaannya warna-warni, sore itu tampak hijau berkilauan, konon di pagi hari warnanya lebih variasi lagi, ada kuning, hijau, biru.. wow seperti di negeri dongeng, apalagi diapit bebatuan kapur berwarna putih ditepiannya, dan pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi disekelilingnya.. [mirip Kawah Putih di Bandung, tapi yg ini lebih luas dan mempesona].. disana sini tampak kawanan burung bangau bercengkerama dengan asiknya..

 

Sore terasa cepat, tampaknya kami tak akan sempat mampir ke Kali waterfall [secara menuju kesana harus trekking 3Km gitu deh].. akhirnya kami memilih menunggu sunset di kawasan Boulevard, sambil menikmati bakso kuah.. merinding aku saat melihat si orange bulat itu turun perlahan ditelan garis pantai, dihiasi bayang beberapa perahu kecil yg santai melintas.. dramatis bangett.. sementara keempat teman baru kami tampaknya sudah bisa merasa nyaman setelah seharian jalan bareng, kami berenam bercanda riang gembira menutup hari saat senja mulai turun..

 

17 August 2005 – Celebrating Independence Day with Cute Tarsius @ Tangkoko Forest

 

Merdekaa !! teriak Sisca dengan semangat pagi itu, walaupun kami berdua masih tergolek lemas di tempat tidur.. kaki sakit semua hasil manjat Bukit Kasih kemarin.. hihi.. untunglah mata langsung terang usai menyantap ikan goreng plus sambal dabu-dabu buatan mbak Garda (pembantu mbak Sisil).. apalagi dihibur tontonan karnaval anak-anak yg melintas di jalan raya depan rumah..lengkap dengan sepeda hias dan pakaian tradisional.. wah lutuna, langsung deh jeprat jepret sambil ketawa ketiwi liat tingkah laku anak-anak itu, ada lhow yg jalannya grooming banget kek keluaran sekolah model tapi kok sambil garuk-garuk, mungkin risih sama bahan bajunya yah..

 

Waktu makan siang, mbak Sisil mengeluarkan ide briliannya, secara Bang Simon dinas ke Makasar n anak-anaknya [Ina dan Ido] pingin jalan-jalan.. horew! Kita diajakin ke Tangkoko Forest untuk liat Tarsius.. rejeki ga boleh ditolak donk.. jam 3 sore kami pun berangkat ke Tangkoko.. perjalanan kesana ternyata cukup jauh juga 1.5 jam dari Manado, sumpah kalo ga diantar Michael supir keluarga Sembiring kita pasti nyasar.. setiba di kawasan cagar alam, kita diantar pemandu setempat menuju kawasan pepohonan yang digemari Tarsius, trekking dengan sedikit berlari +/- 1 Km, karena si mungil ini terlihat hanya sebentar saja menjelang senja..

 

Lagi-lagi kami beruntung.. tidak lama menunggu, primata terkecil di dunia yang konon hanya ada di Sulawesi Utara menampakkan diri di pepohonan besar tidak jauh dari tempat kami berdiri menanti.. ada lebih dari 6, sepertinya satu keluarga, tapi yg lain sangat pemalu dan akhirnya ngumpet lagi, yg 2 sepertinya golongan pede jadi santai aja ga perduli jadi tontonan.. beberapa kali pemandu memberi umpan belalang santapan favorit tarsius agar mereka mendekat.. dan beruntungnya aku, salah satu dari mereka meloncat ke ranting yg ada tepat diatas kepalaku, hingga aku bisa mendapatkan foto si imyut ini dari jarak yg cukup dekat.. kewrenn.. malam terasa mencekam saat kami meninggalkan hutan, pohon-pohon besar memberi bayangan yg menakutkan pada sinar senter kami.. hiii kaburrr.. hari indah ini kami tutup dengan makan di Restoran Sukur di daerah Bitung, makanannya enak, tempatnya nyaman, tapi sama seperti umumnya restoran di tanah paman Sam ini kita kudu sabar coz nunggu makanannya luammmaaa buanget..

 

18 August 2005 – Hidden Waterfall, Sunset @ Moinit, Stars @ Lopana, Lovely Family, Lovely Friends, Lovely Food -

 

Hari ini jadwal kami mengunjungi keluarga Paul di desa Lopana, Amurang. Bertemu Paul di Pusat Kota dan naik bis ukuran sedang dari terminal Malalayang. +/- 1 jam perjalanan, melewati resor Tasik Ria, laut biru, sawah hijau membentang, gunung, dan tentu saja pohon kelapa berjejer menawan disepanjang jalan membuat aku dan Sisca tak henti bernyanyi riang lagu-lagu bernuansa kebangsaan pede banget berasa suara bagus (while penumpang lain tidur semua hihihi..). Hingga akhirnya kami tiba di rumah d’ Walsen di Lopana yg tepat berada di pinggir jalan Trans Sulawesi, disambut papanya Paul - Om Maurits yg begitu humoris dan bugar diusianya yg sudah 82 tahun juga mamanya Paul - tante Alce yg sangat lembut dan ramah. Ternyata keluarga ini memang sangat welcome sama pendatang, tak heran rumah mereka sering diinapi traveler dari berbagai bangsa.

 

Siang itu Paul dan teman-temannya [ber-7 bronis semua bo] mengajak kami bermain ke air terjun di hutan belakang rumahnya. Hmm seru banget, secara lewatin ladang dan hutan yg jalan setapaknya perlu ‘diberesin’ dulu sama Paul n friend pake golok dan pisau.. hihi serasa syuting petualangan liar deh.. nyebrang sungai (mereka nyebutnya ‘koala’) beberapa kali.. dan akhirnya tiba juga di air terjun.. kewren.. [pantes sepupu Paul yg juga artis beken, Marcelino bangga banget ama tanah tumpah darahnya Lopana ini termasuk air terjunnya].. n ternyata mamanya Paul bawain kita rantang gede 5 tingkat berisi lauk pauk segambreng plus nasi yg dibungkusin.. huaaa tante Alce, we love you dueeh.. nikmat banget, secara masakan tante Alce uenak banget, nasinya masih hangat, plus makannya bareng temen-temen baru yg asik, sambil mandangin air terjun n nyelupin kaki ke air sungai yg sejuuk bangett… tapi endingnya dunk, Paul ngajakin kita pulang lewat tebing disisi air terjun dengan cara manjat akar pohon.. gue langsung melotot secara curam bo medannya, udah kebayang deh tuh licin banget.. tapi kayaknya kudu dijajal niy.. apalagi Paul ngeyakinin kalo we’ll be save with the 7 boys.. oke deh yiuk mari..perjuangan banget [mengingat waktu itu gw lagi gendut, almost 60 kilo bo] alhasil gue teriak-teriak terus sepanjang manjat, sekali nyangkut sampe kudu didorong sama Ato n ditarik Nathan.. pas nyampe di atas rasanya ruarrr biasa, kalo celinguk ke bawah rasanya ga percaya banget kita abis ngelewatin jalanan itu..

 

Sore menjelang, Paul ngajakin ke Pantai Moinit [tulisannya bener ga ya, secara kata Paul ini bahasa Belanda yg artinya ‘ga bagus’].. naik angkotnya Ato, lewatin jalan Trans Sulawesi yg menuju Gorontalo.. eh ketemu jembatan goyang yg rupanya merupakan bangunan gagal, salah konstruksi hingga pas kehempas arus sungai yg deras jadi ga beraturan bentuknya.. lewatin ladang jagung dan kelapa, perkampungan nelayan, dan tibalah kami di pantai yg sepi buanget.. ih sapa bilang ga bagus?! langsung deh kita berdua foto-foto dgn kostum merah putih yg emang niat banget kita siapin dari Jakarta.. bercanda cela-celaan, foto-foto [bronies-2 ini banci foto juga ternyata, ck ck ck oh dunia].. langit pun seakan ikut riang melihat kita, dihiasi awan berarak indah saat matahari terbenam..  huaaa.. sampe cape gue nganga terus hari itu..

 

Dan Pesta belum berakhir, usai dijamu makan malam yg super mewah masakan tante Alce (ayam kampung goreng, ikan bakar, dabu-dabu, roa, gulai sapi, babi panggang –Sisca banget deh-, n dessertnya klappertart made in Tante Alce yg tiada duanya).. another surprise, Tante Alce udah nyiapin 2 loyang klappertart utk kami bawa pulang ke Jakarta.. duh terharu banget.. rupanya cowo-cowo pun udah nyiapin pesta buat kami, naik angkot Ato lagi kami diajak ke pantai Lopana yg malam itu terasa hommy banget, ga ada ombak, angin lembut membuai, langit penuh bintang, dan kerlip pelita dari perahu nelayan berpendar memantul di air laut.. gue n Sisca berasa lagi mimpi.. Adi dan Audi memetik gitar, menyanyi lagu Manado dan lagunya Tantowi Yahya yg liriknya diubah paksa jadi mesum.. akhirnya kami berdua batal ngelamun romantis, jadinya malah tertawa tergelak bersama mereka.. pestapun usai tepat jam 12 malam..

 

19 August 2005 – Lembeh Straits, Serena Island, Bitung

 

Dari Amurang, kami bertolak ke Bitung, masih menumpang angkot Ato, ditemani Paul-Ato-Audi dan Nathan, dibekali nasi dan lauk pauk oleh Tante Alce, juga kelapa hijau hasil kebunnya keluarga Walsen, serta kenang-kenangan dari Om Maurits berupa kerajinan daun kering buatannya dan beberapa tulisan beliau yg dimuat di Manado Post.. sedih juga harus berpisah dengan keluarga yg ramah tamah ini..semoga Tuhan membalas budi baik mereka, melindungi mereka, memudahkan semua jalannya, amiinn..

 

Perjalanan Amurang-Bitung ditempuh dalam waktu 2 jam, super ngebut deh.. Tiba di Bitung, Eka (teman kuliah Paul di FH UnSrat) sudah menunggu, mengantar kami ke pelabuhan Bitung (yg ternyata terbesar di Sulut ya), bernegosiasi dengan pemilik kapal, dan akhirnya berlayarlah kami ber-7 berputar di Selat Lembeh.. asik banget.. naik ke atap atau duduk di ujung menjulurkan kaki ke depan, sambil melambaikan tangan ‘sok akrab’ setiap berpapasan dengan perahu lain, apalagi kalau ketemu anak-anak SD yg baru pulang sekolah.. iri banget gue ngeliat Sisca yg snorkelan ditemenin Nathan dan Eka, duh this ‘woman thing’ bener-bener ga bisa diajak kompromi, unless laut Lembeh bisa berubah jadi laut Merah.. basi.. dengan cerianya Sisca cerita ketemu nemo n ikan zebra, lihat karang warna warni – oranye, kuning emas, hijau brokoli- ikan layang warna emas dan perak, serta bintang laut biru..

 

Saat matahari sudah diatas kepala, waktunya membongkar bekal dari Tante Alce, makan siangpun kami nikmati sambil terombang-ambing di atas perahu.. lanjut, mampir di Pulau Lembeh tepatnya di penangkaran ikan letter six yg cantik banget dengan warnanya yg biru menyala.. kemudian kami mampir di pulau kosong bernama Pulau Serena, pasir lembut berwarna creamy, tebing terjal dan goa-goa alam mirip puri di negeri dongeng.. demi foto, dengan semangat kami menyeruak masuk ke goa,ternyata bebatuan di dalamnya tajam kayak ada durinya hingga kami harus bergantian oper-operan sandal untuk melewatinya.. dasar banci kamera.. duduk beristirahat di pasir lembut, kami berdua melongo melihat Audi yg cekatan banget menebas kelapa pakai golok dan membuat sendok dari batok kelapa.. bagai sulap, kelapa pun siap tersaji.. Nathan dan Eka lanjut dengan acara snorkeling [ga lupa gue nitip kamera utk mereka fotoin pemandangan indah di bawah sana].. tidak jauh dari tempat kami duduk, tampak gerombolan ikan sembilan membuat formasi khas.. hihi kewren..

 

Lanjut ke sebuah pulau [lupa namanya] pokoke ada sumber air tawarnya gitu deh.. ketemu dengan rombongan diver yg lagi istirahat sambil bakar ikan.. I wish yah, bisa ngedive.. konon Selat Lembeh ini pemandangan laut dalamnya luar biasa lhow, walaupun dari atas terlihat gelap, tapi mahluk lautnya unik dan beragam, surganya diver banget deh Lembeh ini.. trus kita ngintip juga pulaunya Pak Milton [mantan pejabatnya Sulut], wah rumahnya keren banget.. hingga akhirnya tiba saat untuk kembali ke pelabuhan Bitung..

 

Mampir di rumah Eka, kami dijamu lagi dengan ikan bakar dan dabu-dabu.. duh keluarga di Minahasa ini ramah-ramah sekali dueh, jadi ga enak hati kita makan melulu kerjaannye.. kembali ke Manado, kami bernyanyi sepanjang jalan dgn musik ekstra keras.. malam ini kami harus berpisah dgn d’ Lopana Boys.. sedihnya.. we’ll meet again one day yahhh..

 

20 August 2005 – Reunion with a Friend, Biapong, UD Kawanua

 

Hari terakhir di Manado, kami bertemu sahabat lama temen kerja di PTSI – Jully Ngantung [yg keluarganya punya resto gode di deket bandara Samrat n Quality Hotel yg lagi dibangun itcu..], Jully menemani kami belanja oleh-oleh di UD Kawanua, beli biapong (bapau babi) titipan nyokap di Jl. Wayang yg ngetop banget, n jajan mie cakalang & es kacang merah di restoran ‘Smile’..

 

Usai kangen-kangenan sama Jully, kami pun kembali ke rumah keluarga Sembiring, packing terakhir, kiss bye sama mbak Sisil, Ido , Ina dan Mbak Garda.. diantar Michael ke airport, tak lupa mampir dulu ke bakery Shella langganan Mbak Sisil, wah ternyata kami dapat hadiah lagi, another klappertart seorang seloyang.. huaaa thanks Mbak..

 

Back to Jakarta, Back to Reality.. But its really a gift –the sweetest gift- from God for having wonderful trip like this.. we call it A Blessing Trip in A Blessing Land..

 

--- Puspita Widowati * 7 April 2007 ---

futu-futu Manado di ://chickenduck00.multiply.com/photos/album/8

 

 

- sejujurnya gue heran, kenapa temen-temen gue yg punya darah Minahasa, even yg imported langsung dari Manado (my ex-, Tieke, Jully, Ribka) ga pernah ngomporin kita untuk jalan-jalan ke negerinya yg indah.. ga pernah cerita kalo bumi Minahasa tuh indah banget.. pas kita ada niatan kesana, korek-korek info teteup juga datar aja ekspresinya.. padahal kalo bukan putera daerah yg promosiin daerahnya, siapa lagi gitu loh.. Andrey lagi, udah nyambangin gunung mana aja tapi malah ke daerah asal leluhurnya belum pernah..gimane siy-

 

13 comments:

  1. suka nonton jelajah juga ya mbak ??? semoga jadi penonton setia kita

    ReplyDelete
  2. neng ikut abang jalan lage mau? ke manado boleh, ke mana aja dah...
    hehehe kok gak jalan jauh lage seh??? :-P

    ReplyDelete
  3. yoi doi toi tralala :-) .. walaupun cuma bisa nontonnya sabtu doank.. or kalo lagi terkapar sakit di rumah ;-p.. sukses terus ya buat team Jelajah.. (secara ada temen gw juga presenternya hehe)

    ReplyDelete
  4. andreassss... huh dirimu ! janji mo ajak gue naik kereta otok-otok ke sukabumi aja blum jadi juga.. palsu, ndeso :-D .. pulau seribu donk Ndre.. mungutin sampah lagi yuukk..

    ReplyDelete
  5. jeung...gue gak sempet liat Tarsius euy ..!

    ReplyDelete
  6. numpang lewat.... Jadi iri ada orang bisa menceritakan "tanah air"ku dgn begitu indahnya, apalagi aku blm sempat menikamati indahnya minahasa, maklum besar dirantau hiks...hiks....
    Trims ya....

    ReplyDelete
  7. pemandangan di belakang kayaknya segar dan adem, ..... dimana ya ?!

    ReplyDelete
  8. puspite, berape total backpacker budget buat pergi ke manado ye? yang sama itinerarynya kayak kamu..

    ReplyDelete
  9. Illona, kalo ga salah inget sih modal kita 4jutaan per orang (incl.ticket yah), tapi ketika nginepnya boleh numpang di rumah-rumah kerabat n makannya sering ditraktir kayaknya abisnya cuma 3jutaan gituw dah termasuk oleh-oleh beberapa bungkus bagea manado.. hehehe..

    ReplyDelete
  10. BBbahhhh baru tau kau kalo Manado itu T.O.P Habis...

    Kong sekarang coba jo ngana datang ke Medan. Sama2 Utara toh...mar de pe beda, Manado di Sulawesi deng Medan di Sumatra. Dorang dua ini sama2 gagah, beh....

    Trust me...
    Horas

    ReplyDelete