Thursday, May 18, 2006

Kata Asset dan Hubungan Antar Manusia

Ini kedua kali saya mempermasalahkan pemakaian kata asset untuk menerangkan eratnya hubungan sosial antar individu. Pertama kali ketika membaca artikel yang mengatakan wanita adalah asset yang paling berharga untuk seorang pria, dan sekali lagi karena saya terpaksa memicingkan mata mendengar seorang rekan mengatakan teman berarti asset baginya.

Mengutip arti kata asset di salah satu buku suci para ekonom dan akuntan, Accounting, karya Charles Horngren, Walter Harrison dan Linda Smith Bamber, yang telah diterbitkan dalam beberapa edisi oleh Prentice-Hall International Inc.
Asset is an economic resource that is expected to be of benefit in the future. Cash, office supplies, merchandise, furniture, land and buildings are examples.

Jadi sebaiknya kita lebih berhati-hati menggunakan kata asset untuk sesuatu yang bersifat abstrak normatif seperti hubungan sosial antar individu. Karena asset selalu terkait dengan sejauh mana ia bisa menguntungkan, ketika tidak lagi menguntungkan si pemilik asset bisa setiap saat menjual/menghipotikkan asset tersebut, saat ada penawaran untuk asset yang lebih menguntungkan maka pemilik asset dapat beralih.

Hubungan antar manusia tidak selalu berada dalam posisi saling menguntungkan satu sama lain. Adakalanya kita harus berbaik hati dan berkorban untuk manusia A dan tidak mendapatkan keuntungan darinya tetapi disisi lain kita terus menerus mendapat keuntungan dari manusia B-C-D tanpa perlu melakukan apapun untuknya. Hubungan yang harmonis dalam keluarga, dalam pertemanan tidak dapat disamakan dengan praktek jual beli yang biasanya diterapkan dalam hubungan bisnis.

Jika Anda seorang manajer HRD mungkin Anda terbiasa dengan penggunaan kalimat karyawan adalah asset bagi perusahaan. Karyawan juga adalah manusia, tetapi perusahaan membayar sejumlah uang bagi karyawan untuk menggerakkan laju usahanya yang tujuan akhirnya adalah terciptanya keuntungan bagi pemilik modal karena perusahaan terus berkembang. Perusahaan akan menuai keuntungan bila dapat mengelola karyawannya. Bila karyawan merasa tidak puas dan membuat iklim kerja yg tidak kondusif maka keuntungan pun sulit dicapai oleh perusahaan.

Lalu apakah kita akan menerapkan prinsip yang sama dalam hubungan antar teman-sahabat, pasangan hidup, maupun orangtua pada anak? Keberadaan teman harus menciptakan keuntungan tidak boleh merugikan ataupun yang sedang-sedang saja, membeli teman dengan materi agar ia mengikuti kemauan anda, memiliki pasangan hidup juga harus bisa diperas, anak dikomersilkan agar orang tuanya dapat menangguk keuntungan sebagai ganti susu dan makanan yang diberikannya sejak si anak baru lahir. Tanyakan kepada hati nurani kita, siapkah kita berada di posisi sebaliknya?

Bisakah kita mengilhami diri untuk menjadikan teman, pasangan maupun anak kita sebagai malaikat dan dewa-dewi yang merupakan sayap-sayap kita untuk pulang ke surga. Walau malaikat sering melempari kita dengan batu untuk membuat kita menengadah ke atas. Dewa-Dewi kadang berwujud seorang raksasa yang mengerikan. Tetapi bersama mereka kita bisa bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Mari kita belajar bersama untuk menjadikan teman kita, pasangan kita, anak kita, orang tua kita sebagai ladang pengabdian dan amal, tempat menumpahkan kasih dalam ikhlas, karena Tuhan menciptakan mereka disekeliling kita bukan sebagai asset yang habis manis sepah dibuang. Kita sudah diuntungkan kok dengan mendapatkan anugerah Tuhan, tidak semua orang punya kesempatan untuk bertemu banyak orang dan menjadikan mereka teman kita, tidak semua orang mudah dipertemukan dengan pasangan hidupnya (me neither), tidak semua orang tua diberi kepercayaan membesarkan anak (my friends loose her child for 3x), dan tidak semua anak diberi waktu untuk mengenal orang tuanya. Masih perlukah berpikir cari untung?

Seorang sahabat pernah mengutip satu dalil yang mengatakan kalau kita berteman dengan penjual minyak wangi maka kita akan jadi wangi, sebaliknya kalau berteman dengan tukang asap kita akan jadi dekil dan berbau tak sedap karena terkena asapnya. Yang tafsirnya berarti kalau kita berteman dengan orang baik kita akan jadi baik, berteman dengan orang jahat kita akan ketularan jahatnya. Kenapa bukan kita saja yang jualan minyak wangi? Kan tidak perlu cari tukang minyak lagi J

Peace,
 puspita widowati, 18-05-2006

aku tak ingin jadi asset siapapun, aku tak ingin jadi tukang minyak..
aku ingin jadi mutiara saja, yang tak pernah sirna kilaunya walau berada di dalam selokan..
tak peduli masa laluku sebagai kuman dalam kerang..

No comments:

Post a Comment