Sunday, February 19, 2006

Belajar dari sang kecoa

Sejak kecil aku punya fobia pada kecoa yg makin menjadi-jadi saat bertambahnya usia. Sering bertanya-tanya kenapa sih Tuhan harus menciptakan mahluk mengerikan yg satu itu. Jorok, kulitnya coklat legam, mukanya seram, bersungut, ga ada sisi keindahannya, n bisa terbang pula. Hiii, ini yg paling membuat ia menakutkan untukku.

Sambil terus bertanya-tanya tentang penting ga sih mahluk yg namanya kecoa itu hidup di bumi. Kalau memang ia diperlukan untuk proses pembusukan, memangnya tidak ada zat kimia yg bisa dikreasikan manusia untuk melakukan itu.

Tak dinyana, salah satu hal yg bisa memperkuat kekagumanku pada Allah Sang Pencipta Yang Maha Sempurna justru datang dari mengamati kecoa. Hewan kecil (kecuali kecoa hutan yg sering kutemui di kampus UI dulu yg gede banget), yg wujudnya diciptakan begitu buruk rupa dan menyeramkan, tidak seperti macan atau ular yg walaupun berbahaya tapi tampak manis dgn kulitnya yg warna-warni.Tapi apakah buruk rupanya kecoa menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyayanginya, lalu mencipta hanya sekenanya.

Tidakkah kita bisa melihat betapa hanya Tuhan-lah yang Maha Sempurna, mungkin mahluknya tidak sempurna, tapi Tuhan sudah menyiapkan segala-sesuatu yang sekiranya diperlukan oleh mahluknya untuk hidup. Kecoa si buruk rupa itu diberikan banyak kelebihan oleh Allah, ia bisa hidup dimana saja, bahkan di tempat paling nista pun, ia sanggup hidup di tempat kering maupun basah, tempat terang maupun yg amat gelap, bisa makan apa saja (dari sisa makanan yg masih enak hingga kotoran), limbah dan detergen bukan masalah untuknya, tidak terlalu banyak predatornya, selain dikaruniai kaki yg bisa membuatnya cepat menyelinap, ia juga diberi sayap yg cukup kuat untuk terbang tinggi. Sehingga insektisida pun diperlukan khusus untuk mematikan seekor kecoa. Dahsyat  bukan perencanaan Tuhan untuk jalan hidup setiap mahluk yg Ia ciptakan.

Umumnya manusia tak pernah cukup puas untuk dapat menerima dirinya, lebih sering melihat apa yg tidak dan belum ada pada dirinya dibandingkan mensyukuri yg ada dan mengoptimalkan manfaat dari apa yg sudah ada itu. Sementara apa yg dimiliki seringkali membuat manusia lupa diri dan sombong, padahal semua hanya pinjaman dari Allah. Tapi Allah adalah organizer yg Maha Hebat, setiap detil hidup mahlukNya telah Ia petakan, Ia tahu mana yg terbaik untuk semua mahlukNya, tanpa kecuali, seperti si kecoa tadi. Bisa dibayangkan kalo kecoa seperti manusia yg kena hujan saja bisa flu berat, demam tinggi, makan makanan basi bisa kejang-kejang keracunan, wah dibutuhkan banyak sekali rumah sakit dan dokter kecoa ;-p.

Intinya tidak ada mahluk yang sempurna, yang sempurna hanyalah Sang Pencipta saja. Kalau Tuhan berkehendak, sesuatu yg mustahil bagi kita terjadi bisa saja terjadi, atau sebaliknya. Yang perlu kita yakini Allah mencintai semua mahluknya, tanpa terkecuali, walau bentuk cintaNya terkadang tidak sesuai dgn yg kita harapkan tapi Allah selalu berikan yg terbaik.

- puspita widowati, valentine's day 2006 -

Tuesday, January 31, 2006

Jika Traveling adalah suatu Pelarian.. So What Gitu Loh..

Hari ini saya merasa sangat excited, berbinar-binar seperti abg jatuh cinta, mau tau sebabnya? Karena di depan mata saya terpampang gambar-gambar pemandangan indah dari website Pulau Derawan, impian tujuan wisata saya selanjutnya. Merencanakan liburan lengkap dengan detil agenda, memikirkan dress code dan peralatan yg harus dibawa ternyata efeknya sungguh dahsyat untuk aura bahagia saya saat ini. Jauh lebih mengasyikan dibanding dating with any cute guys ;-p. Lebih excited lagi membayangkan saya akan pergi benar-benar sendirian kesana, membelah hijaunya belantara Kalimantan dan sungai Berau yang di kanan-kirinya bergelantungan monyet hidung merah. Oh God, I cant hardly wait. Yummy..

Jadi ingat, seorang teman pernah menanyakan apakah saya traveling untuk pelarian? The answer is Yes and No. Yang pasti traveling bisa membuat saya bahagia, jangankan menjalaninya, merencanakannya saja sudah membuat saya berbinar-binar seperti ini. Saat traveling kita bisa melihat kebesaran Tuhan yg menciptakan sulaman landscaping dan lautan yang begitu indah, melihat perjuangan bapak petani dan paman nelayan menjalani kehidupan, membuat kita tak punya pilihan lain selain mensyukuri nikmat dan mencintai Sang Pencipta. Di saat sejauh mata memandang hanya ada laut tanpa batas dan langit biru yg begitu megah, luruh sudah semua kesombongan dan ego kita. Begitu kecil kita ternyata. Melihat para polisi hutan dengan gaji yg minim bisa bertanggung jawab pada profesinya, menjaga alam dan hewan-hewan yg dilindungi dengan penuh cinta. Ternyata arti cinta yg selama ini dikupas habis di majalah Cosmo, Female dll, tidak ada apa-apanya.

Selalu ada hal menarik yg bisa kita temui dalam perjalanan, that’s why St. Agustinus said “a world is like a book, the one who stays at home reads only one page”. Mahal memang yg namanya jalan-jalan, tapi jika kita anggap sebagai investasi untuk pengkayaan diri maka bisa dikatakan traveling is value for money. Di Manado saya belajar tulusnya kasih secara universal, torang samua basodara ternyata bukan cuma slogan disana, di setiap rumah kami selalu dijamu besar-besaran, walau baru kenal hari itu. Melihat keseharian napi kelas kakap di Nusa Kambangan yg ternyata punya rasa takut, bisa tersipu malu saat digoda dan pilu menatap kosong bercerita betapa mereka merindukan keluarganya, ahh ternyata mereka juga manusia. Memaknai perjuangan ibu hamil yg harus naik ojek 7km untuk menemui bidan di Ujung Genteng. Berpacu dingin menerobos kabut menyapa petani kentang yg sedang panen di dataran Dieng, jahil menggoda ibu-ibu kemayu pemetik daun teh di Ciwidey. Bermain di tengah senja berteman temaram pelita di kapal nelayan, menunggu dalam harap cemas adanya ikan yg tertangkap. Terapung di laut dgn gemerutuk kedinginan dan perut sangat lapar saat menunggu kapal menjemput di pulau seribu. Tubuh basah kuyup naik kapal ketinting di Tenggarong. Tangan belepotan belajar jadi pengrajin gerabah di Lombok.

Mungkin seperti ectasy, awalnya pelarian, belakangan jadi ketagihan… hehehe..
------------------------------------------- 
Jika hidup terasa gelap, nyalakan saja lampunya…itu kata seorang psikolong ternama.

Disarankan dalam sebuah artikel agar kita harus percaya bahwa kita bisa bahagia, lakukan apa saja untuk membuat kita gembira. Kenakan busana berwarna ceria, pajang hiasan bernuansa gembira, atau saksikan tayangan yang penuh tawa. Jangan mematikan lampu yang menerangi jiwa. Hentikan keluhan mengenai cuaca yang buruk. Hibur diri sendiri dengan mengatakan bahwa segalanya hanya akan ada untuk sementara waktu saja. Berikan semangat kepada diri sendiri, setelah segala kesedihan pergi maka kehidupan kita akan terasa semakin berseri. Mari lakukan hal-hal positif yang kita sukai !!

Tuesday, January 17, 2006

Hari Ini Temanku Menikah

Ahad Delapan January


hari ini temanku Fey & Bonky menikah


 


aku iri pada mereka…


 


bukan… bukan karena akhir bahagia kisah cinta mereka yg begitu manis


bukan juga karena mereka berlari cepat mendahului kami yg masih tertatih


tahu diri, kami mungkin masih harus terus tirakat puasa senin kamis


sabar menunggu cinta sejati datang bersama arus deras dari sungai cicatih


 


ahhh itu kisah mereka.. kisah yg lain mungkin berbeda


misalnya diantar merpati pos, atau kalau lebih cepat mungkin pakai jasa kurir tnt


bisa juga kisahnya masih terapung bebas di laut bunaken (ayo cari kail !)


bukan juga? sincia hampir tiba, adakah tergantung di pohon angpau?


 


tapi sungguh aku iri... pada meriahnya pesta pernikahan mereka..


begitu banyak cinta bertabur disana..


 


denting musik, yg rupanya mengalun dari hati setiap yg hadir


semerbak wangi bunga, yg rupanya tercium dari bibir-bibir penuh doa


lezatnya masakan, yg rupanya diracik dengan pengorbanan tulus para sahabat


dan cerahnya mentari, yg rupanya dipawangi binar mata bahagia sang Ibunda


 


aku iri pada mereka..


malam ini pasti mereka masih lelah seusai perhelatan itu..


minggu depan pasti mereka sudah sibuk dengan acara bulan madu..


 


tapi hari ini entah sampai kapan, aku masih terharu biru..


 


^ puspita ^


Jan 8, 2006



 


 


Fey adalah sosok teman yg penuh perhatian, bak penyejuk di telaga yg selalu memberi semangat untuk sekitarnya, kaki kuatnya dalam pendakian belum seberapa kuat dibanding tekadnya turut melestarikan alam Indonesia. Ketulusan dan pengorbanannya selama menjadi moderator Nature Trekker dan koordinator berbagai event adventure telah menjadikannya wanita perkasa yg begitu disayangi semua yg mengenalnya. Pada pesta pernikahan yg diadakan di kediaman orang tuanya, puluhan teman tak mau ketinggalan moment ijab kabulnya, bahkan banyak yg rela menginap utk mendapatkan gambar terbaik setiap gerik dua merpati itu (termasuk kerbau dan kambing yg turut hadir di halaman mushola). Semua hanya karena cinta.


 


Selamat Bahagia utk Fey & Bonky

Tuesday, January 3, 2006

A Friend in Need is A Friend Indeed


…teman adalah hadiah dari Tuhan untuk kita, mereka bagaikan malaikat-malaikat kecil yang tak bersayap…


Aku yakin semua orang di dunia ini pasti punya teman, entah seberapa dekat dan seberapa tulusnya hubungan mereka. Tapi aku tak yakin kalau teman yg mereka miliki sehebat teman-teman yg aku miliki. Karena teman-temanku tetap mendampingiku bahkan disaat aku tak punya apapun yg bisa aku tawarkan pada mereka. Juga pada saat aku hanya ingin membisu dan sibuk dengan alam pikirku sendiri.


Mari kita bongkar bersama koleksi teman yg kita miliki. Berapa banyak diantara teman yg kita punya yg mengingat kita tidak hanya pada saat susahnya, tapi juga membagi saat senangnya dengan kita. Sebaliknya apakah mereka juga ada saat kita bersuka maupun berduka. Kalau belum banyak, ehm mulailah menoleh kanan kiri dan melihat orang-orang yg baik dan tulus yg bisa dijadikan koleksi teman kita J


Seorang teman yg menemani di saat duka tidak berarti harfiah ikut menangis bersama disamping kita, atau menyodorkan a shoulder to cry on. Tapi seorang teman yg baik akan mengusahakan kita terobati dan bangkit dari luka kedukaan. Seperti obat pada umumnya, mungkin rasanya pahit tapi khasiatnya menyembuhkan.


Aku punya beberapa teman yg selalu mencaci-maki diriku disaat aku sedang bersedih atas kegagalan dan ketidakmampuanku akan suatu hal, mungkin orang lain yg melihat akan menganggapnya kejam dan heran, orang sudah jatuh kok masih ditimpa tangga. Tapi ternyata ’pecutan’ mereka bisa membangkitkan aku bahkan membuatku merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Ada juga yg tampak sedikit tak perduli dengan cerita sedih kita, dan memilih sibuk bercerita tentang kegiatannya di hari itu, ngoceh ngalor ngidul dan akhirnya terselip cerita lucu yg membuat semua yg mendengar tertawa. Kemudian dia akan tersenyum lega seraya berkata, gue seneng lu bisa ketawa, ketika lu udah riang lagi gue yakin lu bisa atasin semua masalah lu sendiri.


Ada orang-orang yg secara luar biasa punya indera keenam yg cukup kuat hingga tanpa sadar selalu datang di saat yg tepat, walau phisically mereka tinggal di tempat yg jauh dan jarang menghubungi di hari-hari lain, tiba-tiba out of the blue bisa muncul dan menumbuhkan harapan baru disaat kita membutuhkannya. Bisa disebut teman-teman macam ini adalah keajaiban yg hadir dari suatu cinta yang tulus.


Bagaimanapun, teman adalah hadiah dari Tuhan untuk kita, mereka bagaikan malaikat-malaikat kecil yang tak bersayap. Memang diciptakan Tuhan untuk melingkupi kita dengan kasih. Bak simpanan tanpa bunga, namun juga tanpa biaya administrasi dan pajak penghasilan. Harus dimiliki! Tapi bagaimana cara kita memilikinya juga akan kembali kepada kita. Jika kita membeli teman dengan uang atau kekuasaan, maka seperti transaksi di bank, kita dapat hadiah langsung satu dos indomie saat buka tabungan, semakin banyak hadiah didapat saat kita tingkatkan saldo tabungan. Tapi saat keadaan kita memburuk, saldo tabungan makin tipis, pajak dan biaya adminnya mulai terasa mencekik, bahkan untuk menutup tabungan tetap dikenakan biaya.


Mari kita berlomba jadi teman yg baik untuk teman-teman kita, kawan. Be a friend in need. Tulus memberi walau terkadang penerimaan terhadap pemberian kita tidak sesuai harapan kita. Kita bisa mulai menghargai juga pemberian orang lain. Contoh kecil, kadang kita menganggap sampah untuk forward email cerita kebajikan maupun jokes dari teman kita, padahal mungkin isinya bagus dan bisa menceriakan hari kita. Paling tidak, nun jauh disana, ada seseorang yg masih mengingat kita dan berharap dapat memberikan sesuatu untuk kita.


Suatu hari nanti, sepuluh atau dua puluh tahun kedepan, saat orang bertanya padaku, apa rahasia kamu bisa awet muda? Aku sudah tahu jawabannya... (Nope! bukan banyak minum air putih atau makan sayur tiap hari, tapi...).. Kasih Tuhan lewat teman-temanku dan keluargaku...


Thanks God, May You bless and take care all my friends wherever they are now…



puspita widowati - Jan 2006

 

--------------------

JEJAK - JEJAK TANAH BASAH

Seorang perempuan menemui kekasihnya dalam kesedihan .
Dia bertutur tentang kegagalanya lagi yang telah kesekian kali.
Lelaki di hadapannya itu hanya memandanginya dan tersenyum, lalu berkata setelah semua cerita dan air mata usai dipapar ,
" Kulihat sempurna sudah bintang di matamu, karena redupnya yang sesekali, " gadis itu terdiam.

Akhirnya kita sepakat untuk berjumpa di pulau itu, tepat seperti kisah kita lima tahun yang lalu.

Bahkan tidak ada yang berbeda , saat hujanpun turun akhirnya seperti hujan lima tahun yang lalu, disusul dengan hujan air matamu seperti sekarang yang serupa dengan tempo dulu.

Ah, entah kenapa bahkan hingga sekarangpun kita belum kunjung sejalan.

Mungkin lima tahun lagi jangan lagi pertemuan kita untuk mengharapkan adanya persamaan dan bukan permintaan atas pertemuan yang menjadi pengulangan hari kemarin.

Bukankah hidup adalah perubahan bukan rotasi untuk sebuah pengulangan kisah kemarin.

Waktu hingga tibanya hati tersentuh kenyataan untuk sebuah doa dari yang jarang, siapa yang memulai untuk melukiskan balik tentang bagaimana aku bisa sampai di sini ?

Waktu kemarin aku masih bertanya - tanya akan berdiri di mana aku dua tahun lagi, besok atau tahun depan, masihkah berdiri pada shaf yang sama di pulau ini?

Dan saat semua berubah lepas sujud, butir air mataku menetes, terlalu banyak kisah untuk dipaparkan terlalu pendek waktu untukku menulis tangis dan takutku akan malam - malam itu, sungguh aku terhempas Tuhan untuk besok dan hari dari kaki yang aku tahu akan berdiri di mana kelak.

 

from Andrey


Sunday, January 1, 2006

Kalau Aku Pulang Nanti




saat kuucap salam Assalamualaikum.. Tuhan, aku pulang..



ingin sekali aku mencium ujung kakiMu dan bercerita banyak dalam nikmatnya belaianMu..



Tuhan, usai sudah jalan-jalanku di bumi…



aku senang Kau ijinkan aku main kesana..





 


selama disana aku tidak tinggal dihotel mewah,



tapi sebuah keluarga yang baik hati menampungku..



selama disana aku bertemu dengan banyak manusia,



mereka sangat unik, sifatnya beragam,



ada yang licin seperti belut, keras seperti batu



ada yang halus lembut dan rapuh seperti kapuk



untung saja ada banyak manusia baik hati mau jadi temanku ..



Terima kasih Tuhan..





 


aku sempat bersekolah Tuhan, di tempat yang bergengsi pula..



sayang, tak semua manusia pandai bisa mencicipi nikmatnya sekolah..



aku sempat bekerja Tuhan, merentang karir di perusahaan besar..



sayang, tak semua manusia rajin punya kesempatan yang sama..



aku sempat bercinta Tuhan, menikmati dua tahun yang indah bersama kekasihku..



sayang, tak semua manusia pernah merasakan indahnya cinta sejati..



aku juga sempat memeriahkan malam-malam pesta Tuhan ..



sayang, banyak manusia yang tak mau bangun dan ingin terus berpesta..



aku juga sempat melewati hari-hari penuh duka, sakit dan terluka..



sayang, tak semua manusia bisa mengambil hikmah dari sakitnya..



sayang tak semua manusia beruntung mau tunduk dalam rasa syukur,



atas semua pahit manis tebal tipis hidupnya..





 


selama disana, dengan mata yang kau pinjamkan ini Tuhan..



aku lihat banyak tempat indah hasil ciptaMu yang tak terurus..



aku ke pulauMu, jumpa burung yang menangis mencari sarangnya..



aku ke hutanMu, jumpa pohon yang tumbang terluka parah..



aku ke lautMu, jumpa ikan-ikan kecil yang sesak napas ..



aku ke gunungMu, jumpa bukit kapur yang gundul dan berketombe..



ah Tuhan, semakin sedikit manusia yang mau memelihara alam indahMu..



 


aku jadi khawatir Tuhan, kalau mereka melihat surgaMu, masih tetapkah mereka seserakah itu?






kalau aku pulang nanti Tuhan, aku tetap jadi bidadari kecilMu kan?.







- Puspita, 2005 -

Sunday, December 11, 2005

Don't Judge The Book From Its Cover


Sampai saat ini rasanya masih sulit untuk sebagian besar masyarakat kita menilai seseorang bukan dari packagingnya saja. Mereka yang berkata bahwa inner beauty yang terpenting hanyalah mengaburkan realita, begitu pengamatan Samuel Mulia kolumnis gaya hidup di harian Kompas. Pencitraan seseorang tetaplah berdasar cara dia mengemas dirinya, baju dan accessories yg dikenakan, tatanan rambut, dandanan, bahkan parfum yg digunakannya (oops ini gue kali yee yg suka ngendus-ngendus nandain parfumnya orang hehehe). Kemudian tanpa sadar kita pun mulai mempersempit jendela pandang kita tentang orang tersebut, .. hmm dia anak gaul tuh lihat donk rambutnya, atau .. dia pasti orangnya kalem karena dia suka pake warna salem ;-p.

Padahal apakah packaging bisa sedemikian rupa merefleksikan jiwa – karakter – prinsip hidup – bahkan keimanan seseorang ? let’s think bout it.

Sekedar bahan pembelajaran, tanpa bermaksud mengunggulkan yg satu dan menyudutkan yg lain, mari kita lihat selebriti kita yg sedang laris-larisnya dipublikasikan di infotainment. Hampir disaat yg bersamaan diberitakan Agnes Monica, si cantik dgn dandanan super nyentrik, meluncurkan album barunya dan bersiap go international lewat berduet dgn Keith Martin. Sementara teman sebayanya si manis lembut Enno Lerian, diberitakan siap bercerai dgn pria yg dinikahinya 2 tahun lalu. Dua public figure ini bak langit dan bumi, yg satu selalu tampil dgn dandanan yg serba nyeleneh tetapi ternyata prestasi di bidang acting dan tarik suaranya patut dibanggakan, selain juga kenyataan bahwa ia adalah anak mami yg sangat dekat dgn keluarga, rajin ibadah di gereja, juga murid yg pandai di sekolahnya. Sementara yg satunya walaupun tidak pernah ada keanehan dalam dandanannya tapi sempat diberitakan terpaksa menikah dini karena telah berbadan dua, dan kini akhirnya bercerai dgn alasan belum cukup dewasa.

Hidup memang tentang pilihan, mau jadi Agnes atau mau jadi Enno misalnya, itu pilihan kita. Tapi bisakah kita menutup telinga dari komentar orang-orang di sekitar kita? Lalu kita sendiri, apakah kita sudah cukup fair menilai seseorang dari inner dan outernya? Mungkinkah kita merugikan seseorang dengan penilaian kita? Pernahkah kita merasa dirugikan dgn penilaian orang?

Sedikit sharing, beberapa kali saya merasa dirugikan dgn penilaian orang sebatas packaging, kebetulan saya menganut prinsip base on mood untuk outer look, tanpa pusing dgn brain, soul dan behaviour yg saya miliki. Jadi ketika saya masih rajin clubbing sekitar tujuh tahun lalu, saya sempat ditegur oleh seorang kenalan, tidak berhenti sampai disitu ceramah pun mengalir tentang gambaran perempuan yg baik dan benar versi kenalan itu, untungnya kekasih saya yg baik hati tetap tersenyum dgn penuh pengertian, karena dia tahu saya yg gedumbrangan ini kali lain akan berdakwah ttg filsafat, dan berganti nama jadi cengengiwati :p. Kedua kalinya, saat saya mengenakan wardrobe yg anggun dan charming pada satu acara kantor, tiba-tiba salah satu komisaris yg baru sekali itu saya temui menghampiri dan menanyakan, siapa yg terima kamu kerja di perusahaan ini? Kalau si A, pasti karena penampilan kamu, tapi kalau si B saya percaya kamu pintar. Sejak saat itu, setiap kali saya membuat artikel ttg marketing & customer service yg akan tertulis di bawahnya, alumnus FE UI, songong sih tapi daripada garing dibilang manado alias menang nampang doang.

Ppft beruntungnya saya cukup cerewet dan punya keberanian untuk terbuka berekspresi, dengan berbagi cara pandang lewat tulisan ataupun debat dengan orang lain. Sehingga sedikit banyak saya bisa meluruskan pandangan orang-orang tentang diri saya, walaupun ada beberapa orang yg masih saya biarkan menganggap diri saya misterius dan mengerikan ;-) biar deh, gak penting getuw. Tapi bagaimana dgn orang lain yg tak bisa mengklarifikasi suara-suara yg salah tentang pencitraannya? Haruskah mereka pasrah menerima komentar yg tidak enak akibat packaging dan pencitraan yg tidak sesuai kemauan khalayak.

Jadi saya masih tetap menyetujui kata bijak ’Dont Judge the Book from Its Cover’, karena seharusnya kita lihat keseluruhan buku nya dulu, dibaca bab per bab dan dilihat adakah makna yg tersirat, berhati hati dalam membuat kesimpulan tentang pribadi seseorang. Untuk diri sendiri, mungkin tak ada salahnya kita jadi buku yg enak dilihat, enak dibaca, bagus dan mendidik isinya, mudah dibawa, harga premium tapi bisa membuat pembeli merasa priceless ketika merasakan manfaat saat membacanya.

Keep the good faith pals.


^-^ Puspita - 10 Dec 2005

Friday, December 2, 2005

Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan

Adakah cinta yg tulus kepadaku .. Adakah cinta yg tak pernah berakhir.. selalu untuk selamanya..


Masih ingat lagu “selalu untuk selamanya” yg dilantunkan Fathur? Melow banget ya.. Tapi temans pernah ga ngalamin yg namanya cinta yg bertepuk sebelah tangan? Yaitu saat orang yg kita suka atau cinta ternyata ga membalas perhatian kita sedikitpun. Ditelpon tidak diangkat, di-sms tidak dibalas, bahkan dia sengaja mempermainkan kita. Sedih kannn, cuk cuk cuk menusuk ke hati kecewanya.


Itu yg terjadi dalam hubungan cinta antar sesama manusia. Lalu gimana dengan hubungan horizontal, kita dan Sang Pencipta? Pernah ga terlintas di pikiran temans betapa cinta Allah sama setiap kita ga ada habisnya. Begitu banyak yg Ia beri sebagai wujud cintaNya buat kita, detak jantung, hela nafas, hingga kita bisa hidup sampai hari ini. No matter how much we can give to Allah in return. Untunglah Ia Sang Maha Sempurna jadi tidak mudah ngambek seperti kekasih kita. Ga kebayang apa jadinya kalo Allah ngambek tiap kali kita absent dari shalat 5 waktu, lalu Allah memutuskan untuk mengskorsing jalannya darah ditubuh kita, persis kayak adegan sinetron pas sepasang ABG ngambek-ngambekan gitu. Hiiii ngeri kaleee..


Begitu banyak kita diberi toleransi untuk berbuat salah, bahkan saat kita sengaja atau tidak sengaja melupakannya. Tapi Allah tak pernah meninggalkan kita sekalipun, tetap setia memberi kesempatan untuk kita menjadi lebih baik, tetap rajin mengingatkan agar kita tak melupakanNya, tanpa pernah berhitung atas pemberiannya, tak pernah menagih janji walaupun kita sendiri yg sudah membuatnya. Terus memberi dan memberi. Lalu apa yg kita lakukan?


Shalat, Puasa, ibadah yg kita jalankan banyak kali bermuara pada niat mengejar pahala, mengejar janji Allah akan kebaikan dunia akhirat, takut siksa neraka, takut azab kubur, sekadar menjalankan kewajiban sebagai umat Muslim dan ada lagi yg lebih parah, karena takut diomongin orang. Mungkinkah suatu hari nanti kita bisa menjadi kekasih Allah yg baik? Yg bersimpuh sujud karena mencintaNya, yg bersuka cita menyambut Ramadhan karena merindukanNya, bak seorang ABG gelisah didepan telpon menunggu dering panggilan dari kekasihnya, dan bukan sekadar ritual belaka (walaupun itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali). Karena kalau tidak begitu cinta Allah pada kita akan terus bertepuk sebelah tangan.


Semoga kita diberi waktu … 




–- Puspita Widowati - Ramadhan 2005--