Tuesday, October 31, 2006

[Journey] Extend d' Holy Moon @ Halimun, JeNus October 2006

Berawal dari kasak-kusuk beberapa karimuners yg resah dan gelisah karena ga punya planning jalan-jalan pas libur lebaran kemarin, jadilah JeNus bikinin paket ngadem bareng ke halimun. Alhamdulillah, trip yang disiapin dadakan dalam waktu 3 minggu sebelum hari H itu bisa berjalan lancar dan seluruh peserta dapat pulang dalam keadaan berat badan nambah sekilo (coz of makan melulu) plus kaki pegal-pegal (coz of curug piit tercinta) ;-p.

 

Dibantu oleh Rima n Fitri selaku korlap, tim JeNus (Ajenk, Leo, Ita, Nana) berangkat bersama 16 temans membelah kehijauan kawasan taman nasional gunung halimun (TNGH). Sesuai jadwal, Jumat 27 Okt, rombongan berangkat jam 7 pagi dari Jakarta dengan diawali doa dari bibir-bibir mungil yg masih berbau bawang goreng rasa nasi uduk bikinan mami fitri. Entah karena kepagian or arus mudik ga lewat tol jagorawi, perjalanan ke kabandungan lancar banget ga pake macet, alhasil jam 10.30 kita sudah sampai di kantor taman nasional gunung halimun. Perjalanan dilanjutkan ke guest house di Cikaniki dengan menumpang light truck, panas matahari yg menyengat tidak menjadi halangan bagi rombongan yg tetap ceria melambaikan tangan ke penduduk desa yg dilewati, sementara sebagian duduk-duduk kenalan n ngerumpi sambil ngunyah cake coklat, risol, pastel n frutang yg terasa menyegarkan.

 

Canopy Trail – Curug Macan – Jamur Fosfor

 

Tiba di Cikaniki masih jam 12.30, rombongan langsung menikmati makan siang n unloading barang dilanjut leyeh-leyeh. Jam 15.00 kita berangkat ke hutan untuk loop trail, menikmati pemandangan hutan dari atas jalur canopy setinggi 25-30 meter. Sayang belum ada setengah jam diatas gerimis keburu turun, berhamburanlah kita turun walau masih sempet foto-foto di batu tulisnya. Setelah menutup diri n kamera dgn rain coat, lanjut perjalanan ke curug cimacan. Konon di gua-gua sekitar curug ini, sang macan masih suka mampir n ceklok di alat absent yg disediakan, hehe. Para narcisser pun segera sibuk dgn acara foto-foto ala FHM edisi pre-wedding salame (satu laki buat rame-rame, yuhuuu secara ada bang fatrik yg model thn 1995 itu) while fitri-rima-elia prefer nikmatin massage ala spa di waterfallnya.

 

Puas main air, saat kaki udah mulai terasa beku, barulah rombongan ingat pulang ke guest house. Jahe anget plus pisang goreng sudah menyambut buat dinikmatin sambil nunggu giliran mandi. After mandi kita langsung bersiap trekking ke hutan lagi untuk lihat jamur fosfor, konon jamur fosfor ini terlihat lebih jelas saat hujan sering turun di TNGH, aiiih beruntungnya kita, meski kudu hati-hati berjalan coz licin banget medannya. Cuma kecil sih si jamur tea, hanya sebesar korek api, tapi kilaunya tampak cantik di tengah kegelapan malam, amazing, Subhanallah. Kembali ke guest house menghangatkan diri makan malam dgn gulai kambing dan permainan simpul tali yg bikin Charlie, Lely cs jumpalitan. Belum sampai jam 10 malam, sebagian besar peserta sudah terlelap untuk bersiap trekking esok hari.

 

Beautiful Sunrise - Jungle Trekking to Citalahab – Kebun Teh Nirmala – Curug CiPiit

 

Acara hari kedua memang benar-benar padat. Aktivitas dimulai jam 5 pagi ditujukan bagi para pencinta fotography, pemburu langit merona jingga saat sunrise yg terlihat sangat cantik menyembul dibalik rimbunnya bukit-bukit jajaran pohon teh di kebun teh nirmala.

 

Usai mandi dan sarapan nasi goreng nan lezat, rombongan berangkat trekking melintas hutan dgn harap cemas bertemu owa jawa yg populasinya cukup banyak di TNGH ini, medan menanjak menurun yg cukup licin karena hujan semalam tidak menjadi penghalang bagi rombongan yg sesekali berhenti untuk mengambil foto tetumbuhan ataupun satwa unik yg ditemui disepanjang jalan. Sayang si owa tidak mau menampakkan batang hidungnya, hanya suaranya saja yg terdengar aa-uu-aa-uu menggema disana-sini. Ihhh bikin penasaran aja siyy…

 

Tiba di areal camping ground di sekitar desa Citalahab, perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan melintasi kebun teh nirmala menuju tempat istirahat di salah satu saung dengan pemandangan terindah. Bekal dibuka, walau belum waktunya makan siang, masih jam 10.30 gitu lohhh, tapi teteup rombongan menikmati makan siang dgn lahap, tak lupa diiringi sumpah serapah beberapa orang yg ga kebagian sambal, abis gimana yak sambalna si ibu Pipi enak euy. Lanjut dgn leyeh-leyeh sebentar menunggu giliran diangkut dgn kendaraan ke desa melasari, drop point terdekat menuju curug cipiit.

 

Perjalanan dari saung istirahat menuju desa melasari ternyata jauh juga, kurang lebih sekitar 40 menit, melalui jalan terjal sepanjang areal kebun teh yg berkelok-kelok, untunglah ga kudu pake kaki, hehe 3 hari baru nyampe kaleee, pula pemandangannya cantik pisan, duuhhh hilang deh semua lelah mata akibat kemacetan Jakarta sebulan terakhir ini. Tiba di desa melasari, masih harus trekking lagi kurang lebih sekitar 1 jam menuju curug cipiit, dan medannya bener-bener menantang. Capeee deeehhh… mendekati bibir curug, kita masih harus menuruni bebatuan licin yg kemiringan sudutnya nyaris tegak lurus dgn ketinggian +/- 25meter.. Untunglah tim ranger yg jadi guide kita sudah menyiapkan tali tambang untuk mempermudah kita turun/naik ke curug. Huaaahhh ngeriiii…

 

Trekking ke curug cipiit ini bener-bener menjadi the unforgettable moment untuk sebagian peserta, ada yg kapok, ada yg ketagihan (niy pasti yeyen), ada yg tetep immune n stay narcis ga perduli beratnya medan teteup focus di acara foto-foto… haha salut deh buat mia n fatrik yg kaga ade matinyeee… parahhhh… (hehe bagian ini dibantu ceritanya ajenk yee, secara gw sendiri ga ikut turun n prefer nunggu di rumah penduduk, rumah bu enai sambil mainan ayam n bebek, gara-gara gangguan kewanitaan yg sangat mengganggu, hiks sedi deh)..

 

Kembali ke guest house saat matahari mulai terbenam, rombongan langsung mengganyang bakwan yg sedap pake cabe rawit plus ubi rebus, lengkap dgn siaran ulangan, alias satu orang pasti nambah bolak balik.. lanjut mandi n oles-oles conterpain or balsam geliga buat ngilangin pegel-pegel, hingga tiba saat makan malam.. sebelum tidur peserta disuguhi tontonan pemutaran film TNGH, tak diragukan lagi maka bersahutanlah komentar ala komedi nakal seputar tempat n satwa yg muncul di film.. wiss lah emang orang gila semua yg pergi siyy..

 

Pulangggg…

 

Minggu, 29 October waktunya pulang.. teteup deh jam 4.30 pagi sebagian bangun dgn semangat 2006 (abis mo bilang semangat 45 wong gw blum lahir tahun segetu).. nguber sunrise di kebun teh nirmala, berharap dapetin sunrise yg lebih cantik dari hari sebelumnya.. too bad, hari ini justru awan tebal menutupi hingga sang surya baru tampak saat sudah sangat tinggi.. jadilah acara berubah ke foto-foto narcis di antara pohon teh, di bibir gawang, di balik pintu mobil (duh Linda ada-ada aja siyy)..

 

Jam 09.00 teng rombongan meninggalkan guest house cikaniki, menikmati makan siang dgn empal gepuk di kantor TNGH kabandungan, dan melanjutkan perjalanan ke parung kuda – Jakarta..  wah ternyata arus balik yg dikhawatirkan bakal menghambat perjalanan pulang tidak kita temui, lalu lintas dari arah parung kuda menuju lido dan ciawi yg biasanya macet dibeberapa titik justru tampak lebih lengang.. jadilah kita tiba di Jakarta 2.5 jam lebih awal dari jadwal.. lumayan dehh, masih sempat buat ke salon luluran, creambath, n refleksi.. hmm what a life !!.. udah abis ngadem di halimun, cuci mata di kehijauan nirmala, olahraga ke curug piit n masih sempet nyalonn… yuuukkk… terima kasih Tuhan..

 

Puspita Widowati – JeNus

 

Many Thanks to Piiters Family ...salut gw liat ketangguhan kalians J

Thanks to Ajenk, Leo, Nana (my partner @JeNus) , Rima & Fitri as Korlap Halimun.. bageusss..

Special thanks to Pak Bostom, Pak Ahmad, Pak Amir, Bu Pipi & team, Bu Enai..

Sunday, October 15, 2006

Sumbangsih Kami untuk Bangsa Ini

Tidak banyak yang bisa kami lakukan untuk memperbaiki keadaan bangsa ini yang di beberapa sisi begitu memprihatinkan. Tangan-tangan kecil kami tak mampu menjangkau puluhan juta saudara kita yang tak terperhatikan. Akal kami yang begitu terbatas tak mampu menciptakan teknologi canggih maupun pemikiran yang luar biasa.

 

Kami hanya punya naluri, semangat, rasa kesetiakawanan dan kesediaan untuk peduli. Bergerak atas pengertian dari apa yg kami lihat dalam setiap perjalanan kami. Misi kami hanyalah sederhana, memperkenalkan sudut-sudut indah di tanah air kita, tapi insya Allah dari yang kecil ini bisa meluas dan membawa manfaat.

 

Berawal dari suatu komunitas milis bernama Nature Trekker yang beranggotakan lebih dari 1000 orang, telah terbentuk beberapa trip organizer seperti JeNus, JaBes, Kawalu, Cemara dll dll. Selain itu masih banyak lagi milis yang aktif mengadakan perjalanan seperti Indonesia Geographic, Sahabat Museum, Jejak Petualang, Explore Indonesia, Highcamp, Pangrango dll dll. Yang kemudian dari setiap tripnya menjaring lebih banyak peminat kegiatan alam bebas, terutama dari kalangan eksekutif muda yang ingin mencari suasana baru, get refresh, keluar dari rutinitas dan mencari keseimbangan hidup.

 

Ini tentu  merupakan sebuah berita baik bagi pengembangan pariwisata Indonesia yang berwawasan lingkungan. Dan tanpa sadar, apa yg berawal dari kepentingan individu para pelancong semata akhirnya justru membawa manfaat bagi saudara kita di berbagai daerah. Hitung-hitung membantu program pemerintah untuk pemerataan ekonomi, karena dalam kegiatan alam bebas ini para pelancong membutuhkan konsumsi, transportasi, pemandu dari masyarakat sekitar. Program perjalanan ke berbagai pulau kecil juga telah memberi penghidupan bagi nelayan setempat, serta dana tambahan untuk mendukung pemeliharaan hutan. Tak jarang disisipkan pula kegiatan bakti sosial oleh para penyelenggara trip.

 

Jadi, jika anda punya waktu dan tenaga (juga dana), jangan berhenti jelajahi tempat indah di nusantara ini, bebaskan penat, manjakan mata dan ceriakan hati saudara kita di berbagai pelosok negeri. Walau kita bukan anggota DPR bukan berarti kita tidak bisa memberi sumbangan untuk bangsa ini kan ? caranya gampang kok dan lebih sehat daripada merokok, cuma jalan-jalan J.

 

Puspita

JeNus

Saturday, September 23, 2006

[Journey] Makasar, Tak Pernah Menyesal

Sendirian di Makasar bukan berarti ga bisa have fun! walaupun akhirnya ga berani juga snorkel di Samalona sendiri en tanpa bawa live vest, tapi toh tetep enjoy dengan acara makan dan makan bersama TTM alias teman tukang makan, hehe.

 

Hari pertama nyesek juga ga kebagian sunset, tapi teteup sujud syukur, soalnya a bit shock pas buka kamar hotel, Subhanallah, viewnya keren banget dr lantai 5 hotel imperial ini, langit yg sudah menjingga dihiasi gemerlap kerlip lampu kapal di sepanjang pantai losari. Allah Maha Baik. Akhirnya gue tarik sofa n duduk di dpn jendela sambil nganga sampe cape. Sedih juga siy pemandangan sekeren itu dikamar segede itu en gue cuma sendirian. Jadilah gue panikika sms kesana kemari, hehehe. Kayaknya berat banget beranjak dari jendela pas waktunya tidur, maka tidurlah gue dengan jendela terbuka lebar berlukiskan langit bertabur bintang. Lidah sudah terpuaskan makan konro bakar di konro karebosi, yg dagingnya lembut banget, porsinya gede banget, bumbu kacangnya gurih banget, kuahnya seger banget, n harganya murah banget. Mata sudah terpuaskan juga. What a life ! zzz

 

Hari kedua tetep ga kebagian moto sunset, secara pas matahari bundar nan cantik mulai turun eh ada telpon dari kantor, serius pula, usai nelpon cepet lari ke lift buat hunting foto dari teras lantai 2, ternyata mataharinya hilang di balik awan. Gagal maning. Tapi gapapa lah, yg penting tadi siang gue dah nyicipin kepiting, cumi, otak-otak n sup ikan yg mantap pisan di RM Ratu Gurih (recommended banget resto ini, kecuali teh manisnya yg pake sirup vanili). Secara Makasar niy panas banget mataharinya, jadilah kalo siang gue  pilih ngadem di hotel aja.

 

Malemnya gue kelayapan deh jalan kaki ke sekeliling hotel, emang udah niat, makan udang n kerang di RM Bahari yg laris banget, semua meja terisi penuh. Orang Makasar niy tampaknnya suka banget makan diluar, beramai-ramai sama keluarga or koleganya, jadi ga heran resto sepanjang losari maupun tempat nongkrong amo (anak motor) di pintu kawasan tanjung bunga tuh penuh sesak sama manusia. Rasa makanan di Makasar banyak yg manis kayak di Jawa, tapi biasanya disajikan bersama 4 macam sambal. Porsi lauk biasanya gede dan hebatnya satu ikan besar itu biasanya buat disantap satu orang lho. Sebelum balik hotel sempat nyicip pisang epe, lucu juga tuh pisang dibakar trus digepengin trus disiram kuah gula aren, trus dinikmatin di pinggir pantai sambil liat bintang.

 

Hari ketiga pindah ke Quality, bankrupt juga kelamaan di Imperial hehe, masih di pinggir losari juga siy..niy hari nyewa mobil.. poto-poto ke Pelabuhan Paotere, keren euy phinisinya, hebad yah nenek moyang kita, sampe sekarang pun kapal-kapal itu masih berlayar ke Surabaya & Papua lhow.. sempet pula sok akrab ria sama buruh angkut n pemilik kapal, demi bisa moto.. sampe ditanyain, wartawan yah mbak, hooh aje deh.. siangnya ngulik coto makasar yg paling enak (hehe gue lupa nama jalannya).. seger banget rasanya, mursida pula, ga nyampe 10ribu udah pake buras 3 plus frestea.. lanjut ke benteng roterdam, wah ternyata rame ada panggung rocknya star mild.. akhirnya ke tanjung bunga, nikmatin angin pantai yg semilir sejuk, sampe sunset time.. ditemenin kopi toraja n mie ayam makasar dari resto Akarena… mirip mie ayam biasa siyy, tapi pangsit gorengnya buanyak n diiris kecil-kecil.. kopi Toraja rasanya jauh lebih pahit daripada kopi sidikalang Medan, cukup menantang deh buat para pehobi kopi tubruk..

 

Sampe di hotel, ketemu Leo AFI di lift, cakep yee.. Sambil packing siap-siap pulang besok, memandangi dgn miris alat snorkel gue yg ga kepake, di luar sana hinggar binggar panggung dangdut di pinggir pantai (walah ternyata Losari lebih rame daripada Boulevard di Manado).. Sementara di tv entah berapa kali gue denger lagunya Anang-KD Tak Pernah Menyesal .. memang bener gue harus setegar karang niy.. tapi gue berharap ombaknya setenang ombak di losari aja.. tak pernah menyesal datang ke Makasar.. yuuk mariii.. Samalona, Tator, Tanjung Bira masih menanti.. tapi ogah pergi sendiri lagi, pula seminggu baru puas kalee..

 

 puspita widowati - Sept 14, 2006

 

Thursday, August 24, 2006

Jadoel




Hihi nemu foto jadoel, niy kayaknya sekitar th 2000 gitu.. jaman itu gue masih berjudul security advisor, yg kerjanya keluar masuk gedung-pabrik-rumah expat setting security system n bikin security analysis. Ini foto diambil pas lagi pameran di JCC, gini deh gaya gue dulu kalo ngantor.. long coat, rok mini, boots.. hehe, norak banget yak, sok cool banget..



Gue enjoy banget kerja waktu itu, berasa sok kepinteran aja tiap bikin security analysis berlembar-lembar untuk 1 rumah expat or pabrik, kutak katik floor plan bangunan utk tentuin dimana titik rawannya, trus sampe inspeksi sekeliling halamannya utk kasih suggest pohon mana yg bisa jadi media persembunyian penjahat. Seru banget.



Awalnya sempet bete, tiap kali ketemu klien expat pasti mereka underestimate gitu, secara waktu itu kan gue masih 24 tahunan, gayanya anak-anak banget pula. Jadi kalo gue sodorin kartu nama tuh kayak ngetaw ain, Ha? Elu nich yg bakal assess premises gue? Tapi lama-lama mereka baik juga, bahkan ada istri-istrinya yg sampe ketergantungan gitu curhat ma gue, sampe ada istri pemilik salah satu perusahaan kelapa sawit terbesar, London Sumatera suka pamer sama gue kalo dia abis nyobain resep kue baru, trus gue diundang ke rumahnya gitu nyicipin. Ada juga Indiahe n tante Prancis yg suka curhatin pembantu or tukang kebunnya. Padahal kadang-kadang gue bingung juga dengerin logat mereka yg ajaib-ajaib.. Tapi gapapa, seru aja siyy..



Hidup Jadoel !!


Sunday, June 4, 2006

Ketika Gambar Dapat Berbicara


Ketika gambar dapat berbicara
Maka semua keindahan yang kau lihat
Adalah bukti dari ke-Esa-an Nya
Birunya laut, hijaunya tetumbuhan, mekarnya bunga
Tawa bahagia, persahabatan, persaudaraan

Sementara…
Kemuraman dan keburukan yang kau lihat
Pastilah ada campur tangan manusia yang merusaknya

Ketika gambar dapat berbicara
Seharusnya kita dapat memaknainya
Merasupi tiap detik waktu yang ternyata berharga
Dan mengisinya hanya dengan tawa, semangat dan cinta
Lihatlah, betapa muram sebuah gambar dengan gurat kesedihan

Dan betapa indah sebuah gambar yang melukiskan wajah nan ceria

Tuhan sangat mengerti kita
Tahu keterbatasan masing-masing kita
Karena Ia Sang Pencipta
Ketika kita berserah diri dan ikhlas
Maka tak akan ada lagi duka
Karena “Dia akan beri jalan saat tiada jalan
Karena “Dia hanya melibatkan kita sesuai keterbatasan kita

Banyak tempat indah yang kulihat
Beragam peristiwa menarik, just right in time
Saat aku harus terus belajar dan belajar
Menghargai dan mewarnai waktu yang tersisa
Dan sebaik-baiknya semampuku mengisinya
Hingga ku yakin tak ada lagi duka yang sia-sia kurasa

 ita, may 2006

pic 1: Ribka-Me-Sisca, a smile of our everlasting friendship
pic 2: Ajenk lagi interview napi di Nusakambangan yg nyesel bgt bunuh keluarganya

Saturday, June 3, 2006

[Journey] Digigit Monyet Pangandaran

Green Canyon - Pangandaran
26-28 May 2006
 
Hari Jumat itu aku kerja udah dengan setengah hati, secara gitu lho itu hari kejepit n kantor lain banyak yg libur.. sepanjang jam kantor bolak-balik ngerapiin barang-barang di ransel mungilku, maklum deh packingnya membabi-buta, as I just decide mo ikutan pergi last night at 11.00 pm hehe.. akhirnya jam pulangpun tiba, langsung meluncur ke gelael tebet tempat meeting point kami, ah ternyata Nana-Leo-Jimmy sudah tiba lebih dulu, belanja-belinji utk bekal n blezz cabut meninggalkan jakarta pas jam 07.00..
 
Thx to toll cipularang yg membuat perjalanan kami jadi lebih cepat, masih ditambah pula pemandangan indah kerlap-kerlip lampu di kota Bandung yg menghiasi sepanjang jalan sekitar Kopo hingga Tasik.. tak terasa cacing-cacing di perut mulai menggeliat, gue yg bercita-cita menghindari makan malam akhirnya tergoda juga mencomot beberapa butir tahu sumedang yg terasa sangat crunchy saat masih hangat.. donut yg dibeli di setopan karawang utk stok 2 hari pun tanpa sadar mulai digerogoti satu-persatu..
 
Di wilayah Ciamis, kami sempat mampir di sebuah resto sunda yg cukup nyaman, tumben masih ada yg buka malam buta begini pikir kami, makan gurame goreng dan kangkung yg baru dipetik, waah enak, sayangnya kangkungnya 1 porsi tuh cuma sepiring kecil, duhh ga nendang banget sihh.. perut kenyang, perjalanan kami lanjutkan dgn bersemangat, banyolan babak-3 pun dimulai.. sakhing semangatnya Jimmy jadi kehilangan spion kanannya, tersambar truk yg berpapasan.. untunglah mobil Jimmy diasuransi, jadi bukannya kasihan justru kecelakaan kecil ini jadi bahan celaan kami..
 
Sekitar jam 03.00 kami memasuki wilayah Pangandaran, sesuai saran Ajenk, kami memutuskan menginap di daerah Batu Karas.. tanpa banyak cingcong kami langsung tidur pulas.. sempat terbangun saat gempa terasa menguncang kamar hotel, NaNa dan Leo berteriak gempa, dan aku cuma menanggapi dengan setengah mengingau, 'ya udah kita keluar saja' .. tapi tak ada satupun yg keluar, mungkin selain lelah kami juga merasa aman karena atap hotelnya berupa daun lumpia, eh rumbia..
 
Jam 07.00 kami bergegas bangun dan sarapan nasi-ayam KFC yg dibeli di Jakarta.. seusai mandi, kami cek-out untuk melanjutkan perjalanan.. ditengah jalan, saat sibuk berfoto-foto bersama kerbau, Ibuku menelpon memberi tahu ttg gempa yg menimpa Yogya, inna lillahi wa inna illahi rajiun.. sambil berwanti-wanti jangan bermain di laut dll dll yang ku-iyakan saja.. badanku langsung lemas, teringat saudara-saudaraku di sana, belum lagi teringat ada teman-teman kami grup Jalan Bebas yang sedang berwisata kesana.. semakin lemas saat tak ada satupun nomor telpon yg tersambung.. sedikit lega saat ibunda mengabarkan lagi bahwa saudara-saudaraku selamat dan tidak ada yang terluka parah, hanya villa Omku di Pandak saja yang runtuh lantak.. semakin lega saat telpon berhasil tersambung dgn sahabatku Azhar dan ternyata teman-teman Jalan Bebas sudah dalam perjalanan pulang dari Yogya.. ahh terimakasih Tuhan..
 
 
Walau masih was-was, kami tetap menjalankan rencana kami menyusuri sungai Cijulang menuju Green Canyon siang itu, mulut terus komat-kamit mengucap doa untuk keselamatan kami serta ketabahan korban gempa dan juga sibuk mengunyah kerupuk.. ternyata wisata Cijulang ini cukup digemari banyak orang, ada 4 bis rombongan dari Toyota yg ikut meramaikan, membuat kami harus mengantri untuk naik perahu... jam 10.00 tibalah giliran kami berperahu menyusuri sungai, sinar matahari yg menyembul dari balik pepohonan rindang, memantul di kehijauan sungai Cijulang, so romantic.. saat perahu sudah terhalang batu dan kami tak bisa menyusuri sungai dng perahu lagi, kamipun berlompatan ke air berenang melawan arus sambil meniti tebing batu untuk menuju air terjun di hulu sungai.. its so amazing.. Subhanallah.. asyiknya lagi ternyata dari sekian banyak perahu yg berangkat cuma kami saja yang hari itu nekad berenang ke hulu, yg lainnya pasrah ikut perahu mutar balik saja.. jadi bener-bener tebing indah sepanjang sungai itu milik kami berenam (kami berlima plus pemandu hehe).. ternyata arusnya cukup kuat dan membuat aku yg tadi pagi sarapan sok imut (alias nasinya ga diabisin) jadi kehabisan tenaga, hampir saja terseret arus.. tapi sumpah, pemandangannya luar biasa.. beberapa kali kami berhenti meniti tebing untuk menikmati pemandangan sambil menjilati air bening yg mengucur terus menerus dari atas.. slurrp segarrr.. ditengah keasikan futu-futu tiba-tiba kulihat sesuatu terbang dari atas sana menuju diriku, kaget sekali pas sadar itu ular sepanjang siku, kontan saja aku berteriak.. ularrr.. hih ngeri.. ularnya sih tidak terlalu besar, tapi kalo dipatuk, lumayan, bye bye dunia..
 
 
Perjalanan balik lebih ringan karena kami hanya perlu berenang dengan kaki di depan dan mengikuti arus sungai, karena sudah tak sabar menjemput donut di perahu (laperr bangett boo, tau khan jeleknya gue kalo udah laper) aku pun nekad berada di depan, sampai tidak sempat mengamati lagi ada jeram menghadang di depan sana, dan aaahhhh byuur blub blub, hampir dua gelas air jeram itu terminum olehku hehehe ..
 
 
Puas bermain air di sungai Cijulang, kami melanjutkan perjalanan ke Pangandaran, tujuan utamanya makan seafood :-) .. tiba di pasar ikan kami langsung sibuk memilih penganan, akhirnya 1 kg tiram saus padang, 1/2 kg cumi saus tiram, ikan kuwe bakar pun menjadi pilihan kami.. dan dalam waktu 15 menit semua makanan itu tandas, hanya tersisa sedikit saja.. sambil menjilati tangan yg belepotan saus padang yg lezat dan menyeruput es kelapa yg seger buanget, kami memandangi pantai pangandaran yg sore itu tidak terlalu ramai... disebelah sana ada kerumunan orang, tengah memandangi hiu abu-abu yg berhasil ditangkap salah satu nelayan, cukup besar juga.. rasa kasihan bercampur ngeri membayangkan mulut sebesar itu mencengkeram kaki kita..hiiii... sepertinya hiu itu terdampar oleh arus gempa tadi pagi, dan langsung tertangkap oleh nelayan yg bersenjatakan tombak.. wow, kayak di pelem..
 
Sepoi-sepoi angin pantai membuat kami mengantuk dan mengingatkan kami utk mencari hotel, perlahan kami berjalan dan mencari hotel yg sempat direkomendasikan penjaga pintu area wisata, ternyata hotel itu untuk jam-jaman alias short time.. ya ampyuuun emang muke-muke kita muke mesum apa yak, berlima pula getuu.. untung akhirnya kami menemukan hotel yg cukup nyaman.. sehabis mandi, nonton extravaganza (teteup, aming forever ;p), kami berkeliling ke sekitar pantai mencari tempat yg enak untuk makan malam.. restoran cina jadi pilihan kami kali ini, sayang pesanan sup jagungku tak seperti yg ku harapkan..
 
saat di lidah sudah terbayang rasa cream soup, tiba-tiba yg muncul adalah sup sayur biasa plus jagung yg dipretelin.. olala.. kembali ke hotel ngobrol sejenak dan satu-persatu kami pun hanyut terdampar di pulau kapuk.. zzzz...
 
Minggunya, seusai sarapan nasi kuning kami langsung cek out dari hotel, hari itu rencananya kami akan mengunjungi cagar alam pangandaran. Saat melalui pasar di pantai timur, aku dan Nana tertarik melihat-lihat pakaian pantai yg dijajakan, ups ternyata mahal boo. Sambil menunggu para wanita berkeliling pasar, para pria ternyata punya inisiatif yg lebih bagus, mereka sudah mencarter kapal yg akan mengantar kami snorkeling. Good boyy..
 
Setengah deg-degan mengingat gempa di Yogya berasal dari laut selatan jawa ternyata tidak menyurutkan semangat kami untuk bermain di laut pagi itu, diawali dengan doa perahu pun mulai dikayuh hingga ke tengah. Snorkeling di pantai pasir putih ternyata cukup menyenangkan, walaupun terumbu karang sudah banyak yg rusak dan arusnya cukup kuat tapi ikan-ikannya buanyaak sekalee. Lelah snorkeling, kami melanjutkan perjalanan menyusuri pantai dengan perahu. Lumayan jauh juga, menerjang ombak pantai selatan, berputar memandang tebing-tebing tinggi yang berhiaskan rimbunnya pepohonan, ombak yg pecah di karang, its so sensational. Melalui beberapa gua yg dihuni burung wallet dan kelelawar, air terjun serta batu karang dengan berbagai bentuk, batu kodok, batu layar, batu nini dll hingga dekat sekali dengan pulau nusakambangan. Tak terasa 1 jam sudah kami berperahu. Kami pun tiba di cagar alam, ternyata tempatnya ramai juga karena bisa diakses lewat darat.
 
Di cagar alam itulah aku sok akrab dengan beberapa monyet yg berkeliaran bebas. Sakhing sok akrabnya, beberapa monyet mengerumuni meminta pocari sweat yg aku bawa, aku sempat menanyakan kepada yg paling tua, emangnya lu bisa buka kaleng ini.. tiba-tiba monyet tua itu berlari ke belakangku dan menggigit punggungku.. cukup dalam juga, untunglah tertahan oleh tshirt yg kukenakan, tapi lumayan juga sakitnya. Ah ditanya gitu aja kok marah sih nyet, sensi banget luu.. concern gue cuma atu, dia udah sikat gigi belum ya tadi pagi sebelum gigit gue?
 
Tanpa sadar waktu sudah menunjukkan jam 11.30, waktunya pulang !! sambil menunggu perahu kami berapat kami masih sempat menikmati semangkuk mie ayam dan pecel, menikmati langit biru, pepohonan besar yg cukup tua, serta berlarian di pasir yg lembut. Ah indahnya perjalanan kali ini. Tepat jam 1 kami berlalu meninggalkan kota Pangandaran, kenangan manis tertinggal disana. Terima kasih Tuhan. 
 
 puspita widowati


Thursday, May 18, 2006

Kata Asset dan Hubungan Antar Manusia

Ini kedua kali saya mempermasalahkan pemakaian kata asset untuk menerangkan eratnya hubungan sosial antar individu. Pertama kali ketika membaca artikel yang mengatakan wanita adalah asset yang paling berharga untuk seorang pria, dan sekali lagi karena saya terpaksa memicingkan mata mendengar seorang rekan mengatakan teman berarti asset baginya.

Mengutip arti kata asset di salah satu buku suci para ekonom dan akuntan, Accounting, karya Charles Horngren, Walter Harrison dan Linda Smith Bamber, yang telah diterbitkan dalam beberapa edisi oleh Prentice-Hall International Inc.
Asset is an economic resource that is expected to be of benefit in the future. Cash, office supplies, merchandise, furniture, land and buildings are examples.

Jadi sebaiknya kita lebih berhati-hati menggunakan kata asset untuk sesuatu yang bersifat abstrak normatif seperti hubungan sosial antar individu. Karena asset selalu terkait dengan sejauh mana ia bisa menguntungkan, ketika tidak lagi menguntungkan si pemilik asset bisa setiap saat menjual/menghipotikkan asset tersebut, saat ada penawaran untuk asset yang lebih menguntungkan maka pemilik asset dapat beralih.

Hubungan antar manusia tidak selalu berada dalam posisi saling menguntungkan satu sama lain. Adakalanya kita harus berbaik hati dan berkorban untuk manusia A dan tidak mendapatkan keuntungan darinya tetapi disisi lain kita terus menerus mendapat keuntungan dari manusia B-C-D tanpa perlu melakukan apapun untuknya. Hubungan yang harmonis dalam keluarga, dalam pertemanan tidak dapat disamakan dengan praktek jual beli yang biasanya diterapkan dalam hubungan bisnis.

Jika Anda seorang manajer HRD mungkin Anda terbiasa dengan penggunaan kalimat karyawan adalah asset bagi perusahaan. Karyawan juga adalah manusia, tetapi perusahaan membayar sejumlah uang bagi karyawan untuk menggerakkan laju usahanya yang tujuan akhirnya adalah terciptanya keuntungan bagi pemilik modal karena perusahaan terus berkembang. Perusahaan akan menuai keuntungan bila dapat mengelola karyawannya. Bila karyawan merasa tidak puas dan membuat iklim kerja yg tidak kondusif maka keuntungan pun sulit dicapai oleh perusahaan.

Lalu apakah kita akan menerapkan prinsip yang sama dalam hubungan antar teman-sahabat, pasangan hidup, maupun orangtua pada anak? Keberadaan teman harus menciptakan keuntungan tidak boleh merugikan ataupun yang sedang-sedang saja, membeli teman dengan materi agar ia mengikuti kemauan anda, memiliki pasangan hidup juga harus bisa diperas, anak dikomersilkan agar orang tuanya dapat menangguk keuntungan sebagai ganti susu dan makanan yang diberikannya sejak si anak baru lahir. Tanyakan kepada hati nurani kita, siapkah kita berada di posisi sebaliknya?

Bisakah kita mengilhami diri untuk menjadikan teman, pasangan maupun anak kita sebagai malaikat dan dewa-dewi yang merupakan sayap-sayap kita untuk pulang ke surga. Walau malaikat sering melempari kita dengan batu untuk membuat kita menengadah ke atas. Dewa-Dewi kadang berwujud seorang raksasa yang mengerikan. Tetapi bersama mereka kita bisa bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Mari kita belajar bersama untuk menjadikan teman kita, pasangan kita, anak kita, orang tua kita sebagai ladang pengabdian dan amal, tempat menumpahkan kasih dalam ikhlas, karena Tuhan menciptakan mereka disekeliling kita bukan sebagai asset yang habis manis sepah dibuang. Kita sudah diuntungkan kok dengan mendapatkan anugerah Tuhan, tidak semua orang punya kesempatan untuk bertemu banyak orang dan menjadikan mereka teman kita, tidak semua orang mudah dipertemukan dengan pasangan hidupnya (me neither), tidak semua orang tua diberi kepercayaan membesarkan anak (my friends loose her child for 3x), dan tidak semua anak diberi waktu untuk mengenal orang tuanya. Masih perlukah berpikir cari untung?

Seorang sahabat pernah mengutip satu dalil yang mengatakan kalau kita berteman dengan penjual minyak wangi maka kita akan jadi wangi, sebaliknya kalau berteman dengan tukang asap kita akan jadi dekil dan berbau tak sedap karena terkena asapnya. Yang tafsirnya berarti kalau kita berteman dengan orang baik kita akan jadi baik, berteman dengan orang jahat kita akan ketularan jahatnya. Kenapa bukan kita saja yang jualan minyak wangi? Kan tidak perlu cari tukang minyak lagi J

Peace,
 puspita widowati, 18-05-2006

aku tak ingin jadi asset siapapun, aku tak ingin jadi tukang minyak..
aku ingin jadi mutiara saja, yang tak pernah sirna kilaunya walau berada di dalam selokan..
tak peduli masa laluku sebagai kuman dalam kerang..